Rabu, 07 Oktober 2015

Baper part 2

Aku sudah lamaa sekali kehilangan kekerenan dalam diriku. Baru beberapa waktu kuintip beberapa buku harian masa MTs, aku cukup terkejut melihat curcolan berbahasa inggris dan juga berbagai istilah yang saat ini aku mengerutkan dahi saat membacanya. Bukan hanya bahasa inggris, aku menulisnya dalam huruf hiragana!
Pernah juga aku coba lirik blog lamaku, yang sudah lamaaa sekali tak tersentuh, dan mencoba sedikit menostalgianya. Ampuuun, seperti membaca tulisan siapaaa gitu. Seperti bukan aku saja, hehe. Hmmm.. memang bibir ini sudah amat kelu untuk berucap, jari ini juga sudah kaku, lupa bagaimana merangkai curhatan yang enak dibaca. Dan semoga hati ini tak beku karena jarang mengungkapkan dan 'membuang' beban tak penting seperti ini. Hal terakhir, yang membuatku jauuuuh lebih sedih, yakni kehilangan berbagai fikroh dan pemahaman baik yang telah kupupuk sejak lama. Memang, hanya dalam beberapa hal kecil dan tidak berpengaruh kepada keyakinan, tapi aku rindu sekali diskusi penuh bobot, debat penuh ilmu, dan perbincangan mengenai masalah ummat. Ya Allah, bantu aku untuk menemukan pengganti teman-teman diskusi superku dulu.. Yang paham, yang mengerti bagaimana seharusnya bermuslim yang sesungguhnya..Aku sadar mungkin selama ini aku sajalah yang kurang berusaha. Tapi, aku percaya bahwa segalanya juga terwujud dengan usaha antara dua arah, horizontal juga vertikal. Karena itu, tak salah kan aku meminta ini padaMu yaa Rabb?

Penampakan balkon shaqr,
Cairo, 3 Oktober 2015,  20:51

Baper part 1

Sungguh baru sebentar sejak aku menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di bumi kinanah. Sudah kucoba berbagai macam makanan, beraneka rasa jus dan minuman, juga telah menyambangi berbagai tempat bersejarah, yang selama ini tak pernah kuimpikan bahkan untuk pergi kesana. Bertemu bermacam orang, belajar berbagai hal. Namun, entah mengapa mungkin aku sudah menemukan 'zona super nyaman' yang membuatku mulai lalai dan males gerak. Terlebih, membuatku lupa atensi sebenarnya yang menyeretku sampai ke bumi para nabi itu. Sungguh, secuil nasihat sangat kubutuhkan untuk saat ini. Sebuah tarikan pelan untuk
membawaku kembali ke 'jalur', alasan dan tujuanku sebenarnya. Jujur, ghiroh dan semangat itu sudah lama pudar akibat liburan panjang pasca tes mesir. Aku sudah kehilangan ruhnya jauuuuh sebelum aku sampai disini. Dan ketika aku sampai disini, berbagai macam keadaan muncul dan membuatku sedikit banyak tambah goyah dan bingung, kehilangan orientasi. Padahal baru sebulan! Ya Allaah, kubuka kembali sedikit catatan, yang dulu selalu menjadi penyemangatku untuk berhijrah ke negeri seribu menara ini. Catatan, yang selalu kubaca tiap waktu..
Mungkin itu saja tak cukup, tapi aku yakin Allah akan selalu membantu dan memberi hidayahNya. Yang perlu kulakukan saat ini mungkin hanya perlu perkuat kembali wirid ibadah.. dan mencoba untuk menggali kembali dan memperbaiki niat.
May Allah bless us..

Penampakan balkon shaqr,  
Cairo, 3 Oktober 2015, 20:38

Minggu, 14 Juni 2015

Malam ini

Ingat punya tujuan besar
Niat mulia
Kemauan kuat
Juga harapan yang mendalam.
InsyaAllah..
Tujuan besar itu..
Niat mulia itu..
Kemauan kuat itu..
Juga harapan itu..
Akan terkabulkan oleh Ilahi..
Entah kapan,
Bagaimana,
Dan juga kapan..
Mungkin memang cara Allah menguji keikhlasan ikhtiar..
Juga kesabaran diri
Allaaaaaahh..
Aku yakin jika memang ini bukan takdir yang engkau harapkan, Engkau telah menyimpan takdir besar dan kehidupan yang lebih indah dari yang kuminta padaMu..
Maaf,
Mungkin memang salahku
Mungkin memang usahaku yang kurang
Mungkin memang keikhlasan ini belum semurni embun pagi
Hanya satu kuminta..
Biarkan jiwa ini tenang dan ridho dengan segala kejutan dariMu..

Pondok Aren, Ahad 14 juni 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Doa; benar-benar senjata seorang mukmin

Pernah dengar sebuah perkataan arab الدعاء صلاح المؤمن؟
Hari ini, aku mendapatkan bukti nyata dari hal ini.
Sebenarnya lebih tepatnya dari doa rabithah.
Yaa bukannya aku meragukan kekuatan doa. Tapi aku tidak pernah berharap akan terjadi sesuatu yang mencengangkan akibat doa ini.

Jadi ceritanya aku memiliki seorang saudara.. Aku biasa menyebutnya 'nyan'. Kami telah saling mengenal kurang lebih lima tahun. Awalnya kami sangat dekat dan akrab, namun karena kesibukan masing-masing, timbul jarak di antara kami. Jangankan mengobrol dan berbagi cerita seperti dulu, bertemupun jarang. Terkadang karena segan aku juga jarang menyapa.. Dan hal ini sangat sering kusesali.
Namun akhir-akhir ini aku sering terlibat kegiatan bersama. Disitulah kami mulai mengobrol kembali. Memang, tidak secara langsung. Tapi hal ini sedikit mengejutkan. Kami mengobrol via whatsapp. Awalnya membicarakan urusan organisasi. Tiba-tiba dia bertanya; "eh status wa kamu, aku pernah loh bikin sama persis. Tapi udah lamaa banget. Sampe emotnyapun sama!"
Kemudian aku teringat saat aku pernah membicarakan soal nama impian dengan seorang teman smp nyan. Aku ceritain lagi ke nyan. Dia jadi penasaran. Dan ternyata benar, kami menginginkan nama yang sama!
Subhanallah.. Bahkan aku juga tidak ingat kapan terakhir kali aku membayangkan nyan di rabithah.. Ya Allah.. Rasanya luar biasa.. Suatu kebetulan, yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi..

Ya Allah bantu aku agar terus mengingat kebesaranmu..
Agar selalu mengingatmu..

P.S.
Kayanya bukan gaya nulis aku yang biasanya nih, hehe.

Jumat, 15 Mei 2015

Tujuan yang tak jauh

Alhamdulillah beberapa tahun terakhir berlalu dengan damai. Hingga tak terasa saat terakhir di bangku sekolahpun tiba. Senang? Entahlah. Yang jelas, dua belas tahun memelototi papan tulis tidaklah membosankan.
Baru semalam aku kembali dari jakarta, usai menjalani tes lisan untuk LIPIA. Lelah, namun ada satu hal yang sedikit mengganjal. Pertanyaan seseorang. Apa kamu tetap mau daftar mesir?
Oh, please deh. Haruskah dijawab?

Maaf saja ya, tapi pernahkah kalian dengar aku mau masuk LIPIA?
memangnya seseorang tidak boleh mendaftar ke lebih dari satu universitas? memangnya itu bisa disebut merebut kesempatan orang lain?

Maaaaaaaf banget. Aku nggak bermaksud mengambil kesempatan siapapun. Karena menurutku setiap orang punya kesempatan yang sama. Yang berbeda adalah, apakah mereka menyadari apakah mereka sedang dihadapkan dengan kesempatan tersebut. Apakah, ketika telah merasa berhadapan dengan kesempatan tersebut ia segera memanfaatkannya sebaik mungkin atau tidak. Apakah, ia telah bersungguh-sungguh mencari dan mengambil kesempatan itu?

Kalau mau tahu, aku pasti juga ingin mendapatkan apa yang kamu dapatkan. Selalu begitu kan, manusia? Tak pernah merasa puas.

Tak bisakah biarkan aku puas sejenak? Aku senang untuk sementara?

Waah, tak seharusnya aku menulis hal-hal buruk yaa.. Padahal sudah lama tidak menulis :P
Yah, yang terpenting hal ini keluar dari otakku untuk sementara ini :D

Jumat, 28 Februari 2014

mungkin galau?

entah, sekarang ada hal berbeda yang kurasakan.

bingung mungkin. tapi entahlah.
antara hati dan pikiran bertarung.
mau memenangkan akal sehat ataukah hawa nafsu.

yang kuinginkan?
jelas jadi lebih baik.
tapi, segalanya gak gampang.

Allah, tolonglah aku..

Minggu, 06 Oktober 2013

C U R C O L

Siang hari yang terik hari senin.
Puasa.
Lemes.
Mau tepar rasanya..-_-

Jam terakhir, pelajaran TIK. Guru sakit, gak ada penggantinya. Online deh.

Haha, entah kenapa mungkin ini jadi sekali lagi, just share part dua. Habisnya menyebalkan, setiap hari selalu ada 'sesuatu' yang berkait dan terkait juga berkaitan dengan dia. -_-
Aku bingung, dan ini sangat mengganggu. Menyebalkan sekali.
Ngomongin pelajaran Ilmu Tafsir, balik ke dia. Ngomongin Ilmu Hadits, balik lagi ke dia. Ngomongin Aqidah apalagi.. MENYEBALKAN.
Liat jajaran motor guru di depan kantor ekonomi, ingat dia lagi. Liat kaos kaki, ingat itu lagi. Ngetik, itu lagi. Fiuh, menyebalkan.
Entah kenapa nggak bosan-bosan yaa, mengingat dia?

Khilaf banget nih, gara-gara hal itu nilai aku sempat turun, dan diledek oleh anak kelas. -_-
Aku mungkin kurang tegas, ya?

Semalam, aku sempat berbincang sejenak dengan teman sekelas tahun lalu, syifone. Aku kagum sekali dengan dia. Perubahannya subhanallah. Yang dulunya parah banget, sekarang jadi sholihah. Tekadnya, subhanallah. Aku jadi merasa tak pantas, merasa nggak ada apa-apanya. Ngerasa kecil, ya Allah.

Rupanya selama ini aku sudah terlalu sombong.
Selama ini aku terlalu mengentengkan orang lain.
Meremehkan pelajaran.
Meremehkan amanah.
Meremehkan Ibadah.
MeremehkanMu ya Allah..

Kini aku bertekad dan berAzzam. Pokoknya harus bisa. Harus bisa. Harus bisa.
Mungkin sejauh ini, ini dulu ya,
sudah waktunya untuk berhenti mengeluh dan berhenti mencaci.
Just prepare up and keep your spirit up.
Keep your smile and be happy :D

Jaa~ zahida